gambar: http://lenterakecil.com/wp-content/uploads/2013/02/kehilangan.jpg
kehilangan...
apa sih yang biasanya terpikir ketika mendengar kata "kehilangan"?
kehilangan helm, dompet, karcis parkir, itu hal biasa aja kan... paling cume nyesek beberapa saat aja...
kemarin sore, tepatnya sepulang kerja di rumah kontrakan. seseorang yg bisa ku anggap sebagai teman, sahabat, bahkan kakak. yang biasanya kita bercanda, bersendau gurau, dan cuma sesekali ngomong serius,,, tiba-tiba suasana begitu menegangkan.
dia pamit mau pulang ke Solo untuk menjenguk ayahnya yang jatuh di kamar mandi dan sudah berada di Rumah Sakit.
aku menawarkan diri untuk mengantarkan dia karena aku tahu dia capek setelah bekerja seharian. namun dia menolak, mungkin merasa takut merepotkan aku.
aku bergegas pergi ke kamarku untuk berganti pakaian kantor yang sudah lusuh dengan kaos santai.
tak lama berselang, sayup-sayup terdengar suara dari kamarnya. dia mendapatkan kabar dari masnya, kalau ayahnya belum sadar. dengan ponsel yang masih terhubung dengan masnya, dia menangis terisak tanpa kata. terkulai lemas diatas kasurnya. yang akhirnya menguatkan diri menanyakan kronologis kejadian dengan terbata-bata.
aku memberanikan diri untuk menghampirinya, mencoba menenangkannya. tapi tak tahu apa yang harus ku lakukan. ku pikir, dengan membawakan air minum untuknya sudah cukup membantunya untuk menenangkan diri.
aku mencoba lagi menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang ke Solo, namun lagi-lagi dia menolak.
sekali lagi aku keluar dari kamarnya untuk memberikannya ruang.
aku bisa merasakan akan ketakutan dari dirinya. ketakutan akan kehilangan. kehilangan seorang ayah yang begitu dia cintai.
terasa suatu kesedihan yang sangat mendalam. yang belum pernah kurasakan.
aku sendiri tidak tahu bagaimana rasa kehilangan seorang ayah. karena sejak kecil aku bersama ibuk dan adikku, sudah ditinggal seorang ayah. yang entah kemana...
pada akhirnya, dia meminta tolong untuk mengantarkannya mencari taksi. dengan senang hati aku mengantarkannya ke Bandara Adi Sutjipto yang memang banyak taksi disana...
hati-hati dijalan mas Hafidz. semoga ayah segera sembuh dan beraktivitas seperti sedia kala...
itulah kehilangan. cintailah ayahmu. hargailah setiap keputusannya. betapa sedihnya tanpa ada seorang ayah mendampingi kita.
beruntung, sejak SMP kelas 3. ibukku dipinang oleh seorang lelaki yang juga menyayangiku dan juga adikku. terima kasih,,, "ayah" :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar